"untung" ialah "pencurian". Pujangga Jerman bernama Weitling
menyatakan bahwa untung ialah bagian hasil yang dicuri kapitalis dari
buruhnya. Karl Marx pun yg belajar Ekonomi dlm tempo kurang lebih 20 tahun sudah mengupas kapitalisme dan "untung" itu. Marx menamainya "Nilai-Lebih" di bukunya Das Kapital
Sebagai contoh, saat buruh kerja 6 jam sehari itu hanya menghasilkan untung yang
pas-pasan, karena kapitalis harus membayar tempat, gaji buruh, alat produksi dan sebagainya. Maka dari itu kapitalis menaikan jam kerja 2x lipat
menjadi 12 jam dengan gaji yang tetap. Kerja Lebih itulah yg menimbulkan Nilai-Lebih, ialah tenaga yang tak dibayar. Akan tetapi dengan terus-menerus menguras tenaga buruh, itu menimbulkan buruh kurang semangat dan kondisi fisik
menurun. Sehingga kerja 8 jam sehari sering dipergunakan dan itu
dianggap manusiawi. Namun, buruh tetaplah terpenjara, karena telah bekerja 8 jam untuk kekayaan
orang lain. Dan korban hari ini adalah perempuan karna tidak banyak
protes, ulet dan bisa diupah minim.
Tak sampai disitu, kapitalis punya akal lagi untuk mendapat untung, yaitu menanam modal pada perkakas atau mesin, agar produksi lebih banyak lagi. Sehingga menjual semurah-murahnya dan dapat untung sebesar-besarnya! Akan tetapi tidaklah untung produksi terlalu banyak. Karena dengan banyaknya produksi, membuat permintaan konsumen berkurang. Dan perlu diperhatikan lagi yaitu menimbulkan Produksi Anarkis, ialah persaingan hebat dengan kapitalis lain dlm satu negara.
Oleh karena itu, terjadilah Krisis Ekonomi yang menimbulkan pabrik di tutup. Krisis adalah keadaan yang merupakan serba kekurangan di satu kutub dan serta kelebihan di kutub lain. Krisis terjadi karena jumlah gaji buruh yg sebenarnya sehari demi sehari berkurang dan hasil barang hari demi hari bertambah, sehingga kekuatan buruh untuk membeli tidak seimbang dgn naiknya banyak barang.
Produksi tidak selalu maju efisiensinya, tapi juga brtambah sulit. Memang mesin itu makin bagus, tapi sepadan dgn itu putaran (cycle) Krisis itu bertambah cepat pula. Mesin itu "celaka 13". Maka dari itu, kapitalis mesti mencukupi, tak boleh melebihi atau mengurangi keperluan pemakai atau konsumen. Karena kemajuan hasil kapitalis tak berbanding dengan kekuatan si pembeli.