Jumat, 23 Desember 2016

Payung otomatis buka tutup. Diameter besar. Anti uv. Anti karat
IDR. 70.000
WA. 08986295518
Automatic open and close umbrella
70k. Big diameter. Anti uv. Stainless steel
SMS. 08986295518

Selasa, 08 September 2015

Pudarnya Penghormatan Dunia Ir. H. Djuanda



Perjuangan Ir.  H. Djuanda bukanlah sekedar cerita basa-basi  belaka, tapi melahirkan multi sumbangan dalam mengisi kemerdekaan.  Tapi,” kata Pak Mashudi mantan Gubernur Jawa Barat,Sangat disayangkan, sekarang banyak orang Indonesia yang tidak mengetahui siapa Djuanda. Apalagi 10, 20 tahun lagi.” Dalam buku Pahlawan  Nasional Ir. H. Djuanda; Negarawan, Administrator dan Teknokrat Utama.



M
asih sedikit informasi mengenai Ir. H. Djuanda. Jumlah eksemplar cetakan buku tokoh Ir. H. Djuanda pun terbatas. Kurang diungkapnya Ir. H. Djuanda dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah dan buku biografi pahlawan, membuat generasi muda kurang memahami tentang sejarah bangsanya. Padahal pemahaman generasi muda tentang sejarah bangsa yang membuat negara bertahan dan tumbuh, dapat memperkukuh rasa persatuan. 

Ir. H. Djuanda merupakan bagian dari sejarah jatuh bangunnya negara Republik Indonesia. Ir. H. Djuanda menjabat sebagai Mentri Pertama yang pertama dan terakhir. Presiden Soekarno beberapa kali memberi kepercayaan kepada Ir. H. Djuanda untuk bertindak sebagai Pejabat Presiden. Masa kabinet Ir. H. Djuanda merupakan masa sulit karena pecahnya Dwitunggal Soekarno-Hatta, pemberontakan PRRI-Permesta, Daud Beureuh, dan DI-TII.

Meskipun Ir. H. Djuanda tidak berpartai, banyak sumbangan Ir. H. Djuanda dalam membangun bangsa, diantaranya; menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) dan Munas Pembangunan sebagai upaya memulihkan Dwitunggal Soekarno-Hatta, menumpas secara militer PRRI yang mengultimatum Pemerintah Pusat, melahirkan Deklarasi Djuanda yang memperluas wilayah RI dari 2000 km2 menjadi 5000 km2, memperbaiki seluruh sarana angkutan yang hancur akibat Perang Dunia II, mendirikan perusahaan penerbangan Garuda, mendirikan Akademi Penerbangan di Curu dan Akademi Pelayaran di Jakarta, serta membangun sistem angkutan darat, seperti kereta api.

Selain mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, Ir. H. Djuanda juga meraih tanda-tanda penghormatan dari berbagai negara, diantaranya; Bintang Kehormatan Kelas I (Jepang), Bintang Kehormatan dari Rusia, Kamboja, Rumania, Yugoslavia dan Kerajaan Thailand.
Ir. H. Djuanda berpulang ke rahmatullah pada 7 November 1963. Kepulangannya membuat Presiden Soekarno meniadakan jabatan Menteri Pertama. Kemungkinan besar, karena Presiden Soekarno menyadari tidak ada sosok yang tepat untuk menjabat Mentri Pertama. Presiden Soekarno pun menggantinya dengan tiga Waperdam.

Kematian Ir. H. Djuanda yang mendadak membuat Indonesia mengalami kerugian besar. PKI mulai bebas menyusup ke dalam Pemerintahan yang menimbulkan menelan banyak korban dalam G 30 S/PKI. Selain itu keadaan ekonomi memburuk. 

Sosok Kepribadian Ir. H. Djuanda

Sosoknya tidak banyak bicara, termasuk dengan anak dan keluarganya. Ir. H. Djuanda adalah seorang pendengar baik yang sabar, dalam kedinasan maupun di rumah. Tindakan dalam mengatasi masalah dilakukannya setelah mendengar berbagai pendapat. Sosok sabar lainnnya, ketika mengahadiri sidang DPR, Ir. H. Djuanda datang sebelum waktu yang dijadwalkan dan menunggu sabar hingga sidang dimulai lewat waktu yang ditetapkan.

       “Bila membeli tinta, selalu dibubuhi tanggal mulai pakai. Perpustakaan di rumah diatur rapi dan selalu menyempatkan waktu untuk membaca. Buku bacaannya adalah tentang kemilitiran, peperangan, ekonomi, pembangunan, dan administrasi negara.”, kata Awaloedin Djamin, Menantu Ir. H. Djuanda dalam bukunya yang berjudul Pahlawan Nasional Ir. H. Djuanda.
      “Pakaian dan sepatu tidak banyak, tapi terawat dan tersusun rapi. Tidak pernah menemui tamu berpakaian piyama, walau keluarga dekat.”, tuturnya lagi.

Tak heran progam-progam dinasnya dilakukan secara cermat dengan memperhitungkan faktor keberhasilannya. Sayangnya, kini Ir. H. Djuanda seolah-olah tak lebih daripada sebuah nama yang kebetulan melintas di panggung sejarah, seperti wajah yang dibiarkan tak bernama.