Perjuangan Ir. H. Djuanda
bukanlah sekedar cerita basa-basi
belaka, tapi melahirkan multi sumbangan dalam mengisi kemerdekaan. “Tapi,”
kata Pak Mashudi mantan Gubernur Jawa Barat,
“Sangat disayangkan, sekarang banyak
orang Indonesia yang tidak mengetahui siapa Djuanda. Apalagi 10, 20 tahun lagi.”
Dalam buku Pahlawan Nasional Ir. H.
Djuanda; Negarawan, Administrator dan Teknokrat Utama.
|
M
|
asih sedikit informasi mengenai Ir. H. Djuanda. Jumlah eksemplar cetakan buku
tokoh Ir. H. Djuanda pun terbatas. Kurang diungkapnya Ir. H. Djuanda
dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah dan buku biografi pahlawan, membuat
generasi muda kurang memahami tentang sejarah bangsanya. Padahal pemahaman
generasi muda tentang sejarah bangsa yang membuat negara bertahan dan tumbuh, dapat
memperkukuh rasa persatuan.
Ir.
H. Djuanda merupakan
bagian dari sejarah jatuh bangunnya negara Republik Indonesia. Ir.
H. Djuanda menjabat sebagai Mentri Pertama yang pertama dan terakhir. Presiden Soekarno beberapa kali memberi kepercayaan kepada Ir. H.
Djuanda untuk
bertindak sebagai Pejabat Presiden.
Masa kabinet Ir. H. Djuanda
merupakan masa sulit karena pecahnya
Dwitunggal Soekarno-Hatta, pemberontakan PRRI-Permesta, Daud Beureuh, dan DI-TII.
Meskipun
Ir. H. Djuanda tidak berpartai, banyak sumbangan Ir. H. Djuanda dalam membangun
bangsa, diantaranya; menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) dan Munas
Pembangunan sebagai upaya memulihkan Dwitunggal
Soekarno-Hatta, menumpas secara militer PRRI yang mengultimatum Pemerintah
Pusat, melahirkan Deklarasi Djuanda
yang memperluas wilayah RI dari 2000 km2 menjadi
5000 km2, memperbaiki seluruh sarana angkutan yang hancur
akibat Perang Dunia II, mendirikan perusahaan penerbangan Garuda, mendirikan Akademi
Penerbangan di Curu dan Akademi Pelayaran di Jakarta, serta membangun sistem
angkutan darat, seperti kereta api.
Selain mendapat
penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, Ir. H. Djuanda juga meraih tanda-tanda penghormatan dari berbagai
negara, diantaranya; Bintang Kehormatan Kelas
I (Jepang), Bintang Kehormatan dari Rusia, Kamboja, Rumania, Yugoslavia dan
Kerajaan Thailand.
Ir. H. Djuanda
berpulang ke rahmatullah pada 7 November 1963. Kepulangannya membuat Presiden
Soekarno meniadakan jabatan Menteri Pertama. Kemungkinan besar, karena Presiden
Soekarno menyadari tidak ada sosok yang tepat untuk menjabat Mentri Pertama.
Presiden Soekarno pun menggantinya dengan tiga Waperdam.
Kematian Ir. H.
Djuanda yang mendadak membuat Indonesia mengalami kerugian besar. PKI mulai
bebas menyusup ke dalam Pemerintahan yang menimbulkan menelan banyak korban
dalam G 30 S/PKI. Selain itu keadaan ekonomi memburuk.
Sosok Kepribadian Ir. H. Djuanda
Sosoknya tidak
banyak bicara, termasuk dengan anak dan keluarganya. Ir. H. Djuanda adalah seorang
pendengar baik yang sabar, dalam kedinasan maupun di rumah. Tindakan dalam
mengatasi masalah dilakukannya setelah mendengar berbagai pendapat. Sosok sabar
lainnnya, ketika mengahadiri sidang DPR, Ir. H. Djuanda datang sebelum waktu
yang dijadwalkan dan menunggu sabar hingga sidang dimulai lewat waktu yang
ditetapkan.
“Bila membeli tinta, selalu dibubuhi tanggal
mulai pakai. Perpustakaan di rumah diatur rapi dan selalu menyempatkan waktu
untuk membaca. Buku bacaannya adalah tentang kemilitiran, peperangan, ekonomi,
pembangunan, dan administrasi negara.”, kata Awaloedin Djamin, Menantu Ir.
H. Djuanda dalam bukunya yang berjudul Pahlawan Nasional Ir. H. Djuanda.
“Pakaian dan sepatu tidak banyak, tapi
terawat dan tersusun rapi. Tidak pernah menemui tamu berpakaian piyama, walau
keluarga dekat.”, tuturnya lagi.
Tak heran
progam-progam dinasnya dilakukan secara cermat dengan memperhitungkan faktor
keberhasilannya. Sayangnya, kini Ir. H. Djuanda seolah-olah tak lebih daripada
sebuah nama yang kebetulan melintas di panggung sejarah, seperti wajah yang
dibiarkan tak bernama.
kalo memang ada samurainya silakan wa ke 085257561445
BalasHapus